Saturday, January 13, 2018

Hormon Kelamin dan Antagonis Hormon

Manipulasi hormonal memiliki peran penting dalam pengobatan kanker endometrial, prostat dan payudara serta memiliki peran terbatas untuk pengobatan hypernefroma. Pengobatan ini tidak kuratif, tetapi bersifat paliatif yang kadang pada sebagian pasien dapat menekan penyakit sampai bertahun-tahun. Respon tumor dan toksisitas pengobatan sebaiknya dimonitor secara hati-hati dan pengobatan diubah bila terjadi perkembangan penyakit atau efek samping yang lebih merugikan dibanding manfaat yang diperoleh. Obat anti kanker hormonal dan antagonisnya tidak digunakan pada anak.

Estrogen

Dietilstilbestrol (stilbestrol) jarang digunakan pada pengobatan kanker prostat karena efek sampingnya. Dietilstilbestrol digunakan pada wanita pasca menopause dengan kanker payudara. Toksisitas umum terjadi dan efek samping dipengaruhi oleh dosis yaitu mual, retensi cairan tubuh, trombosis Vena dan arteri. Impotensi dan ginekomastia selalu terjadi pada pria dan Withdrawal bleeding dapat menjadi masalah pada wanita. Hiperkalsemia dan sakit pada tulang juga terjadi pada kanker payudara. Etinilestradiol merupakan estrogen paling kuat, tidak seperti estrogen lain etinilestradiol dimetabolisme secara lambat di hati. Etinilestradiol digunakan pada pengobatan paliatif kanker prostat.

Progestogen

Progestogen digunakan pada pengobatan kanker endometrium. Penggunaan untuk kanker payudara dan kanker sel ginjal sudah berkurang. Saat ini progestogen jarang digunakan pada kanker prostat. Medroksi progesteron atau  megestrol sering dipilih dan diberikan secara oral; dosis tinggi dan pengobatan parenteral tidak direkomendasikan. Efek samping ringan meliputi mual, retensi cairan, peningkatan berat badan.

Androgen

Ester testosteron sudah banyak digantikan oleh obat lain untuk kanker

Antagonis Hormon  

# Kanker payudara

Pengobatan pasien kanker payudara meliputi pembedahan, radioterapi, obat atau kombinasi ketiganya.
Untuk kanker payudara yang dapat dioperasi terapi sebelum pembedahan atau terapi neoadjuvant dapat mengurangi ukuran tumor dan memfasilitasi operasi kanker payudara. Terapi antagonis hormon misal letrozol dipilih untuk kanker payudara dengan reseptor hormon steroid positif dan kemoterapi untuk tumor negatif dengan reseptor hormon steroid negatif dan untuk wanita yang lebih muda.
Untuk kanker payudara stadium awal wanita sebaiknya mempertimbangkan terapi tambahan setelah pembedahan tumor. Terapi tambahan dilakukan untuk menghilangkan micro metastasis yang dapat menyebabkan penyakit kambuh. Pemilihan terapi tambahan berdasarkan risiko yang dapat terjadi. Status reseptor hormon seret utama dan status monopouse.
Terapi tambahan dapat berupa kemoterapi sitotoksik atau terapi antagonis hormon. Wanita dengan kanker payudara dengan reseptor hormon steroid positif dipertimbangkan untuk mendapat terapi antagonis hormon ( didahului dengan kemoterapi sitotoksik jika diperlukan). Sedangkan kanker payudara pada wanita dengan reseptor hormon steroid negatif harus dipertimbangkan untuk mendapat kemoterapi sitotoksik.
Tamoksifen, suatu antagonis reseptor estrogen efektif pada wanita pasca menopause, perimenopause dan pramenopause. Penghambat aromatase seperti anastrozol eksemestan dan letrozol hanya efektif pada wanita pascamenopause. Terapi tambahan antagonis hormon mengurangi resiko munculnya kanker pada payudara yang lain dan terapi sebaiknya diteruskan selama 5 tahun setelah operasi pengangkatan payudara. Untuk pasien yang diberikan terapi tambahan lanjutan diberikan tamoksifen selama 5 tahun diikuti dengan penghambat aromatase seperti letrozol selama 3 tahun berikutnya.
Trastuzumab diindikasikan untuk penggunaan kanker payudara stadium awal dengan over Express HER2 (human epidermal growth factor2) pada wanita sebelumnya telah menjalani pembedahan, kemoterapi dan radioterapi yang sesuai.
Wanita pramenopause dapat juga diberi terapi analog gonadorelin atau ovarian ablation

Untuk kanker payudara stadium lanjut. Temoksipen digunakan untuk tumor pada wanita pasca menopause dengan reseptor estrogen positif, pada pasien dengan periode bebas kanker payudara setelah terapi kanker payudara stadium awal yang berlangsung sejak lama dan penyakit pada jaringan lunak dan tulang. Penghambat aromatase seperti anastrozol atau letrozol lebih efektif dan merupakan pengobatan yang lebih dipilih untuk wanita pascamenopause. Ovarian ablation atau analog gonadorelin sebaiknya dipertimbangkan untuk wanita premenopause.
Progestogen seperti medroksiprogesteron asetat tetap digunakan pada wanita pascamenopause dengan kanker payudara stadium lanjut. Efektivitas progestogen sama dengan tamoksifen, namun tidak selalu dapat ditoleransi dengan baik dan kurang efektif dibandingkan penghambat aromatase.
Kemoterapi sitotoksik lebih dipilih pada tumor stadium lanjut dengan reseptor hormon steroid negatif dan untuk penyakit yang agresif dimana metastase melibatkan daerah viseral (miaal hati) atau jika periode bebas kanker payudara setelah terapi kanker payudara stadium awal hanya berlangsung singkat.
Chemoprevention. Penggunaan tamoksifen untuk profilaksis dapat menurunkan kejadian kanker payudara pada wanita yang beresiko tinggi terhadap penyakit ini. Tapi efek samping tamoksifen membuat pemakaian secara rutin pada kebanyakan wanita dihindari.
Obat sitotoksik yang digunakan pada kanker payudara. Suatu antrasiklin dikombinasi dengan fluorourasil dan siklofosfamid dan kadang juga dengan Metrotreksat efektif untuk kanker payudara. Kombinasi siklofosfamid metotreksat dan fluorouracil juga berguna jika suatu antrasiklin tidak sesuai contoh untuk pasien penyakit jantung.
Penyakit metastatik. Pemilihan regimen kemoterapi dipengaruhi oleh faktor Apakah pasien pernah menerima terapi tambahan dan adanya komorbiditas. Untuk wanita yang sebelumnya belum menerima kemoterapi antrasiklin seperti doksorubisin atau epirubicin dikombinasi dengan siklofosfamid merupakan terapi awal standar untuk penyakit kanker metastase. Pasien yang sukar disembuhkan atau resisten dengan antrasiklin perlu dipertimbangkan untuk diberi pengobatan dengan taksan baik secara tunggal maupun kombinasi dengan trastuzumab pada tumor dengan overexpress HER2 ( Human epidermal growth factor 2). Obat sitotoksik lain dengan aktivitas menghambat kanker payudara meliputi kapesitabin, mitoksatron, mitomisin, dan vinorelbin. Trastuzumab tunggal merupakan pilihan untuk kanker yang resisten pada kemoterapi dan dengan overexpress HER2.
Antagonis reseptor estrogen. Temoksipen merupakan antagonis reseptor estrogen yang digunakan untuk kanker payudara dan infertilitas anovulatori.
Penghambat aromatase. Kerja penghambat aromatase terutama dengan melakukan blokade konversi androgen menjadi estrogen pada jaringan perifer tidak menghambat sintesis estrogen ovarium dan sebaiknya tidak digunakan pada wanita pramenopause.
Anastrozol dan letrozol merupakan penghambat aromatase nonsteroid,exemestan adalah inhibitor aromatase steroid. Anastrozol dan letrozol memiliki efektivitas yang sama dengan temoksifen untuk terapi Lini pertama pada kanker payudara metastase pada wanita pasca menopause. Namun demikian belum diketahui dengan pasti manfaat penghambat aromatase pada penggunaan jangka panjang.
Analog gonadorelon. Goserelin, analog gonadorelindigunakan pada kanker payudara pada wanita pramenopouse.
Obat lain yang digunakan pada kanker payudara. Penggunaan bifosfonat pada pasien kanker payudara metastase dapat mencegah komplikasi terhadap skeletal dari metastase tulang.

#Kanker prostat dan analog gonadorelin

Kanker prostat metastase umumnya memberi respon terhadap terapi hormonal yang bertujuan untuk mengurangi endrogen. Pengobatan standar meliputi orchidektomi subkapsular bilateral atau menggunakan analog gonadorelin (buserelin, goserelin,leuprorelin). Respon pada sebagian besar pasien berlangsung paling lama 12 sampai 18 bulan. Walaupun sudah diberi terapi analog gonadorelin, tidak semua terapi dapat memberikan hasil yang memuaskan dalam menahan perkembangan penyakit kanker prostat terutama untuk hormon refactory prostat Cancer, tapi kadang-kadang pasien memberikan respon terhadap terapi dengan manipulasi hormon misalnya dengan antiandrogen. Penyakit tulang dapat diobati dengan iradiasi atau bila meluas dengan strontium atau prednisolon.

#Analog somatostatin

Oktreotid merupakan analog penghambat hipotalamus hormon somatostatin. Diindikasikan untuk mengobati gejala yang timbul akibat tumor neuroendokrin terutama karsinoid dan akromegali. Okreotid digunakan untuk mencegah komplikasi akibat pembedahan pankreatik. Okreotid juga mengurangi mual pada indikasi paliatif.
Peringatan, tumor growth hormone secreting pituatary dapat menyebar dan menyebabkan komplikasi serius selama pengobatan dengan analog somatostatin pasien sebaiknya diawasi terhadap gejala penyebaran tumor misal kerusakan visual. Dianjurkan dilakukan pemeriksaan ultrasound dari kandung kemih sebelum pengobatan dan pada interval 6-12 bulan selama pengobatan ( hindari penghentian pengobatan secara tiba-tiba). Pada insulinoma, peningkatan kedalaman dan durasi hipoglikemia dapat terjadi saat awal pengobatan dan lakukan perubahan dosis diabetes militus pemberian insulin atau antidiabetik oral sebaiknya dikurangi.
Efek samping. Gangguan saluran cerna meliputi anoreksia mual muntah sakit dan kembung pada abdomen perut kembung diare dan steatorrhorea dapat terjadi. Toleransi glukosa post prandial dapat terganggu dan hiperglikemia persistent jarang terjadi pada pemberian kronik hipoglikemia juga pernah dilaporkan. Batu empedu pernah dilaporkan pada penggunaan jangka panjang, penghentian tiba-tiba octreotide subkutan menyebabkan kolik empedu dan pankreastitis. Rasa sakit dan iritasi dapat terjadi di tempat penyuntikan Oleh karena itu tempat penyuntikan sebaiknya dirubah-rubah. Telah dilaporkan pankreatitis segera setelah penyuntikan tetapi jarang.

No comments:

Post a Comment